Sejarah DPRD

Sejarah Pembentukan

DPRD Kabupaten Konawe Kepulauan

Pembentukan DPRD Kabupaten Konawe Kepulauan adalah konsekuensi pemekaran Pulau Wawonii menjadi Kabupaten Konawe Kepulauan. Pulau mungil nan elok itu, kini berkembang sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Tenggara.

Kabupaten Konawe Kepulauan adalah salah satu daerah hasil pemekaran dari Kabupaten Konawe, yang disetujui di gedung DPR RI melalui Sidang Pa­ripurna DPR RI, 12 April 2013. Kabupaten Konawe Kepulauan merupakan Daerah Otonom Baru (DOB) sesuai Undang-Undang No. 13 Tahun 2013 tentang Pembentukan Kabupaten Konawe Kepulauan di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Guna menjalankan roda pemerintahan maka dilantik Pejabat Bupati, H. Muh. Nur Sinapoy, SE, M.Si, pada 23 Oktober 2013. Berdasarkan amanat undang-undang, seorang Pejabat Bupati harus segera membentuk lembaga legislatif.

Maka, dibentuklah Perangkat Daerah dalam bentuk Sekretariat DPRD Konawe Kepulauan, guna melaksanakan pelayanan administrasi serta memberikan dukungan terhadap tugas dan fungsi DPRD.

Nur Sinapoy menunjuk Alimuddin, SE sebagai sekretaris dewan (Sekwan) pertama. Kurang lebih 9 bulan Alimuddin menjabat, mulai 31 Desember 2013 hingga 24 September 2014, ia kemudian digantikan oleh Awaluddin, S.Pd, M.Pd.

Awaluddin menjabat Sekwan selama 2 tahun. Fungsi kelembagaan DPRD Konawe Kepulauan pun semakin efektif di masa ini. Menurut Awaluddin, tidak mudah memimpin DPRD, karena selain menata aparatur sipil negara (ASN), juga harus mengakomodasi kepentingan politik masing-masing anggota dewan agar bisa sinergis dengan Pemerintah Daerah.

Setelah 2 tahun, mulai 24 September 2014 hingga 15 September 2016 menjadi Sekwan, Awaluddin dimutasi menjadi kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Kepulauan.

Muh. Rijal, S.IP, M.Si dilantik sebagai Sekwan baru menggantikan Awaluddin. Muh.Rijal yang menjabat Sekwan sejak 15 September 2016 hingga saat ini, mampu membuat lembaga ini kian kompak.Hubungan antara eksekutif dan legislatif semakin kokoh, pun harmonis hubungan sekretariat dewan dengan para anggota DPRD.Pada era Muh.Rijal, jembatan komunikasi serta koordinasi guna memantapkan trifungsi dewan berjalan lebih maksimal.

Sekretaris Dewan mempunyai tugas memfasilitasi anggota DPRD dalam melaksanakan tugas administrasi, keuangan, legislasi, persidangan, pengawasan, dan penganggaran.

Menurut pria bertutur kata lembut ini, kuncinya koordinasi dan terbuka.Muh.Rijal mampu menyelesaikan dengan baik masalah-masalah di lingkungan kerja.Ketika ada program pemerintah melibatkan DPRD, maka pertama dilakukan, koordinasi dengan para anggota, terutama para pimpinan DPRD.

Kelahiran DPRD Kabupaten Konawe Kepulauan melewati pro­ses panjang. Pada Jumat 2 Januari 2015, resmi diambil sumpah 20 anggota DPRD Konawe Kepulauan. Sebelumnya, 4 orang anggota dewan yakni Musdar, Abdul Rahman, Jaswan, dan Sahidin, sudah menjabat anggota DPRD di kabupaten induk, Kabupaten Konawe. Karena mereka terpilih dari daerah pemilihan (dapil) 2 Pulau Wawonii, maka sesuai undang-undang, mereka dikembalikan ke dapilnya menjadi anggota DPRD Kabupaten Konawe Kepulauan.

Lembaga wakil rakyat ini, berdasarkan aturan, harus dipimpin sementara oleh partai pemenang pemilu urutan satu dan dua.Maka otomatis kader PAN serta PKS menjabat sebagai ketua dan wakil ketua.Mengingat jumlah anggota dewan 20 orang, maka wakil ketua harus ditambah satu yakni pemenang pemilu urutan ketiga, Partai Demokrat.

Usai pelantikan 20 anggota dewan, selang sekitar empat bulan, Senin 13 April 2015, tiga pimpinan definitif pun resmi diambil sumpah menjadi ketua dan wakil ketua DPRD Kabupaten Konawe Kepulauan periode 2015-2019. Ketua dijabat oleh kader PAN, Musdar, S.Sos, wakil ketua dijabat oleh kader PKS, Abdul Rahman, SE, dan wakil ketua dijabat oleh kader Demokrat, Jaswan SE. Pengambilan sumpah dilakukan oleh Ketua Pengadilan Negeri Unaaha, dilaksanakan di Langara, ibu kota Konawe Kepulauan.

Penataan dan pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten Konawe Kepulauan berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia Nomor 613/Kpst/KPU/Tahun 2014 dengan jumlah 20 kursi. Pelaksanaan tersebut berdasarkan berita acara Pleno KPU Provinsi Sulawesi Tenggara Nomor: 45/KPU.Prov.026/XII/2014.

PEROLEHAN SUARA
PARTAI JUMLAH SUARA
NASDEM 1211
PKB 1583
PKS 2075
PDIP 508
GOLKAR 1380
GERINDRA 1543
DEMOKRAT 2018
PAN 2446
PPP 1685
HANURA 1079
PBB 895
PKPI 1688
JUMLAH 1811


Setelah pemekaran maka berdasarkan aturan maka diangkat anggota DPRD hasil penataan pemekaran, sebanyak 20 orang. Untuk merealisasikan keputusan tersebut maka telah ditunjuk dan dilaksanakan pelantikan keanggotaan DPRD Konawe Kepulauan. Berikut Nama-Nama Anggota DPRD Kab. Konawe Kepulauan hasil penataan Dapil oleh KPU Pusat adalah sebagai berikut:

Penetapan Calon Terpilih

Partai Nama Terpilih Suara Sah
PAN MUSDAR, S.Sos 928
PKS ABDUL RAHMAN, SE 1502
DEMOKRAT JASWAN, SE 954
PKPI SAHIDIN 902
PKPI M. YACUB RAHMAN 589
NASDEM MUH. AMIR DANU, SP 647
PKB IMANUDIN, S.Pd 629
PKB ISMAN 546
PKS AMRAN, S.Pd 293
PDIP HATIGA 206
GOLKAR MUHAMAD FARID, SE 751
GERINDRA RUDY, SH 820
GERINDRA Drs. UNTUNG 609
DEMOKRAT ISHAK, SE 856
PAN KAABA 605
PAN TITIN NURBAYA. S 427
PPP Drs. H. MUH. YASRAN 586
PPP MUH. RISSAL, SE 539
HANURA HARYANTO, S.Sos 594
PBB Drs. ABDURRAZAK LAKUDU 458

Sumber: KPU RI dan KPU Konawe

Pasca pelantikan, selanjutnya 20 anggota DPRD Konawe Kepulauan melaksanakan sidang-sidang guna pembentukan alat kelengkapan dewan, diantaranya Fraksi-Fraksi, Komisi-Komisi, Badan Anggaran, Badan Pembentukan Peraturan Daerah, Badan Musyawarah, dan Badan Kehormatan. Dengan terbentuknya seluruh alat kelengkapan dewan, maka fungsi DPRD yakni fungsi pengawasan, fungsi anggaran dan fungsi pembentukan peraturan daerah, mulai berjalan optimal.

DPRD Konawe Kepulauan hanya memiliki dua fraksi, yakni fraksi besar bernama Fraksi Kerakyatan dan fraksi kecil bernama ­Fraksi Persatuan Nasional Indonesia Raya.Fraksi besar terdiri dari 15 orang, sedangkan fraksi kecil terdiri dari 5 orang.

Fraksi Kerakyatan dihuni oleh kader partai: PAN, Demokrat, Golkar, PKS, PPP, PKB, Hanura, PBB, dan PDIP. Fraksi ini dipimpin Ketua Drs. Kaaba, Wakil Ketua Ishak, SE, Sekretaris Muhammad Farid, SE, Bendahara Titin Nurbaya Saranani, dan Anggota Musdar, S.Sos, Abdul Rahman, SE, Jaswan, SE, Muhammad Rissal, SE, Imanuddin, S.Pd, Isman, Haryanto, S.Sos, Hatiga, S.Sos, Amran, S.Pd, Drs. H. Muh. Yasran Djamula, dan Mustaman.

Sementara Fraksi Persatuan Nasional Indonesia Raya dihuni oleh kader partai: Gerindra, Nasdem, dan PKPI. Fraksi ini dipimpin oleh Ketua Drs. Untung Taslim, Wakil Ketua Muh.Amir Danu, SP, Sekretaris Sahidin, SE, Anggota Rudi Tahir, SH, dan Muh. Yacub Rahman, SP.

Seiring perjalanan waktu, sempat dilakukan Pergantian Antar Waktu (PAW) yaitu Mustaman, A.Md menggantikan anggota dewan yang wafat, Drs. Abdul Razak Lakudu dari Partai Bulan Bintang.

DPRD Konawe Kepulauan periode 2015-2019 ini boleh dikata peletak sejarah, karena mereka menjadi anggota dewan pertama. Sebagai perintis, mereka sukses membangun kemitraan antara Pemerintah Daerah dengan DPRD.Hubungan kedua institusi penyelenggara pemerintahan daerah itu, tampak harmonis dan kompak membangun daerah kaya hasil bumi    tersebut.

Tantangan daerah otonomi baru, apalagi di wilayah kepulauan, semua serba minim, tetapi hal ini bukan alasan bagi anggota DPRD menjalankan tugas tidak maksimal. Terbukti, para legislator pertama ini mampu menoreh tinta emas, sebagai DPRD di Sulawesi Tenggara yang tidak pernah telat waktu dalam penetapan APBD.

Bagi Ketua DPRD Konawe Kepulauan, Musdar, tantangan yang dirasakan sebetulnya tantangan klise, dimana hampir semua masyarakat menganggap seorang legislator, apalagi ketua DPRD, se­bagai sosok yang hampir mampu melakukan semua hal.

Menurut Musdar, proses pendakian rohani menuju realitas absolut adalah perjalanan manusia pada satu sisi, tetapi beriringan pula proses formal setiap anak bangsa di dalam menapaki tahapan kehidupan bernegara, agar senantiasa taat dan patuh kepada ­patron-patron peraturan yang ada, dan semua itu menuntut integritas yang tinggi atau kua­litas moral yang baik. Seperti dikatakan Immanuel Kant: Two things awe me most, the starry sky above me and the moral law within me  (dua hal yang membuatku kagum, langit berbintang diatasku dan hukum  moral dalam diriku).

Padahal, anggota dewan sesungguhnya punya keterbatasan kewenangan, keterbatasan kemampuan, apalagi secara institusi ada keterbatasan kuantitas, dan mungkin juga keterbatasan kualitas dalam melaksanakan tugas.

Di awal-awal tugas, baru beberapa bulan menempati kursi parlemen, para wakil rakyat disibukkan oleh demo besar-besaran menuntut pencabutan IUP salah satu perusahaan tambang di Wawonii Tenggara. DPRD dikepung ratusan massa kala itu. Akhirnya, DPRD mengeluarkan rekomendasi pencabutan IUP.

Rekomendasi dewan tersebut bukan karena perusahaan tambang tidak memenuhi legal standing, melainkan semata-mata aspek sosial kemanusiaan. Menurut Musdar, hal itu sebagai salah satu wujud komitmen DPRD kepada masyarakat.

DPRD Konawe Kepulauan era kepemimpinan Musdar, masa kerja 2015-2018, telah menghasil­kan 49 Peraturan Daerah, kemudian telah membuat 49 Keputusan DPRD.Mayoritas Perda lahir dari hak inisiatif DPRD.

Jumlah atau kuantitas bukan target bagi anggota DPRD dalam melahirkan Perda, namun yang terpenting adalah kualitas. Perda yang dibuat harus benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Konawe Kepulauan, jelas Musdar.

Jumlah Perda tersebut masih mungkin bertambah jika tahun 2019 ini DPRD Konawe Kepulauan mampu menyelesaikan pembahasan 11 buah Raperda. Dari 11 buah Raperda tersebut, 5 merupakan hak inisiatif DPRD, sedangkan 6 lainnya adalah usulan Pemda Konawe Kepulauan.

Di bawah komando Musdar, terbangun kerjasama yang baik antara DPRD dengan Pemerintah Daerah, antara DPRD dengan sekretariat dan antara sesama anggota DPRD.Pembahasan Perda berjalan lancar meski sebagian anggota dewan masih menetap di Kota Kendari.

Diantara fungsi dewan yakni pengawasan, anggaran dan pembentukan peraturan daerah, fungsi pengawasan diakui Musdar masih belum berjalan maksimal. Karena beratnya fungsi pengawasan yang tidak hanya mensyaratkan integritas anggota dewan, namun juga menuntut keahlian tersendiri dalam hal-hal teknis, untuk itu,  Musdar selaku Ketua DPRD, meminta agar eksekutif memaksimalkan pengawasan internal yang ada pada setiap item pekerjaan, khususnya pekerjaan-pekerjaan fisik.

Indahnya sinergitas eksekutif dengan legislatif menjadi kekuatan membangun Konawe Kepulauan, karena daerah ini menyimpan potensi mineral alam dan perikanan yang luar biasa.

Konawe Kepulauan berada pada gugusan pulau-pulau di bagian timur Sulawesi Tenggara, tepatnya di sebelah Pulau Buton dan Kota Kendari.Wilayahnya di posisi sangat strategis karena perairan lautnya dilalui oleh jalur pelayaran kawasan timur dan barat Indonesia.Kawasan sangat potensial yakni diapit oleh laut Banda dan selat Buton, yang memiliki potensi sumber daya keragaman hayati kelautan dan perikanan cukup besar.

Selain potensi sektor perikanan dan kelautan, potensi pariwisata pun dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, seperti wisata air terjun dan wisata bahari.Begitu banyak sektor andalan daerah ini.

Letak geografis Konawe Kepulauan, pada sebelah utara berbatasan dengan selat Wawonii, sebelah timur berbatasan dengan laut Banda, sebelah selatan berbatasan dengan selat Buton, dan sebelah barat berbatasan dengan selat Wawonii.

Luas wilayah Konawe Kepulauan sekitar ± 1.513.98 Km, terdiri dari daratan ± 867, 58 km2, luas perairan (laut) ± 646, 40 km2 dan garis pantai 178 km2.

Secara administratif Konawe Kepulauan terbagi menjadi tujuh kecamatan dengan ibu kota kabupaten berada di Langara. Pada tahun 2013 jumlah penduduk tercatat sebanyak 30.396 jiwa, terdiri dari 15.179 jiwa laki-laki dan 15,217 jiwa perempuan.

Bentuk topografi wilayah Konawe Kepulauan pada umumnya merupakan dataran rendah, bergelombang hingga berbukit.Sedang­kan wilayah yang tergolong pegunungan jumlahnya sangat terbatas.Pulau Wawonii merupakan daerah angkatan, dengan ketinggian antara 0-1.000 m di atas permukaan laut.Daerah dengan ketinggian antara 50-1.000 m di atas permukaan laut merupakan daerah perbukitan sampai pegunungan dengan kelerengan antara 0-40 persen di bagian tenggara, utara dan timur dan timur laut Pulau Wawonii.

Iklim pada wilayah Konawe Kepulauan adalah termasuk iklim tropis dengan suhu terendah 180C.Type iklim menurut Smith-Ferquson termasuk type iklim C dengan curah hujan tahunan secara rata-rata tercatat antara 1.500 mm/tahun hingga 2.898 mm/tahun.

Hasil identifikasi potensi pemetaan wilayah darat dan laut Konawe Kepulauan memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan.Memiliki potensi kemaritiman yang cukup luas untuk pembangunan industri perikanan pelabuhan regional dan pada daerah pesisir keliling Pulau Wawonii pantainya menjadi potensi pariwisata.

Di beberapa kecamatan ditumbuhi tanaman mangrove dan panorama bawah lautnya terdapat terumbu karang yang sangat indah, dimana di sekelilingnya ditumbuhi lamun tempat ikan duyung berkembang biak sejak lama.

Menurut data yang dirilis Pemerintah Daerah, pada bagian wilayah darat Konawe Kepulauan terdapat sejuta potensi unggulan, terutama bidang pertambangan seperti nikel, pasir kroom, pasir kuarsa, marmer, emas, batu bara, batu gunung dan sirtu (pasir kali). Bidang pertanian Konawe Kepulauan memiliki areal persawahan yang cukup luas serta tanaman jangka panjang dan jangka pendek. Di bidang perkebunan komoditi unggulannya antara lain: kelapa, cengkeh, jambu mete, pala, dll.

Bidang kehutanan, Pulau Wawonii terdapat paru-paru bumi yang masih perawan, terdapat pula 23 sungai dan 10 air terjun yang ketinggiannya mencapai ± 120 m dimana debit airnya sangat keras, sangat cocok untuk digunakan sebagai sumber energi (pembangkit listrik tenaga makro, mikro hidro (PLTMH). Kemudian di tengah-tengah gunung Waworete terdapat danau yang cukup besar dan di sekitarnya terdapat danau kecil yang sangat panas.

Potensi lain yang tak kalah menarik, bidang seni dan budaya Konawe Kepulauan terdapat kekayaan sejarah peradaban pemukiman para raja-raja Wawonii yang disebut Lakino, benteng-benteng bersejarah, makam raja, tari lense, tari molihi, dan situs-situs bersejarah yang terdapat di dalam gua.

Dan keseluruhan pelosok Konawe Kepulauan adalah pegunungan dan pesisir yang sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai objek wisata lokal dan mancanegara.

Melihat daerah ini berada pada poros strategis, perairan laut dilalui jalur pelayaran nasional kawasan timur dan barat, wilayah darat Pulau Wawonii diapit laut Banda dan selat Buton yang memiliki sumber daya keragaman hayati cukup besar, maka dengan segudang potensi sumber daya alam tersebut, semestinya kesejahteraan sudah dirasakan seluruh masyarakat Konawe Kepulauan.  • M NASIR IDRIS