Sahidin, SE

SAHIDIN, SE ( Anggota )
SAHIDIN, SE ( Anggota )

“Bagi Saya Menjadi Anggota Dewan Bukan Hal Spesial

Sahidin, SE

Memiliki tekad kuat dan pantang menyerah merupakan prinsip hidup seorang anggota DPRD Kabupaten Konawe Kepualuan bernama Sahidin, SE. Ia anak dari pasangan La Sawai dan Wa Awa yang lahir pada 10 Maret 1975 di Mosolo, Wawonii Tenggara. Keluarganya merupakan suku asli Buton.

Pria berusia 41 tahun ini mengawali pendidikannya di SD Negeri 1 Mosolo pada tahun 1988, kemudian lanjut kenjenjang berikutnya di SMP Negeri 3 Wuawua atau saat ini dikenal sebagai SMP Negeri 4 Kendari serta mengakhiri masa bangku sekolah pada tahun 1994 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kendari.

Baginya pendidikan merupakan hal yang penting dan nomor satu, sebab dengan terus belajar dan mengejar ilmu pengetahuan akan mempermudah semua orang untuk mencapai cita-cita. Semasa sekolah, Sahidin termasuk anak yang cerdas sebab ia selalu mendapatkan rangking kelas antara satu, dua dan tiga.

Setahun kemudian pada 1995, ia pun memutuskan untuk mengikuti kursus di Handayani Kendari. Masuk kursus bukan tanpa alasan, sebab ia menilai jika mengikuti kursus akan menambah keahliannya di bidang komputer yang masa itu masih jarang yang menguasai keahlian itu.

Setelah enam bulan mengikuti kursus ia memenangkan undian dari Handayani dengan mendapatkan sebuah komputer. Alhasil komputer itu bukannya untuk dipakai malah ia jual untuk digunakan sebagai modal ke Kota Makassar. Tak ada tujuan lain, pria yang hobi berolahraga ini ingin kembali meningkatkan kemampuannya dengan masuk di Akademi Sekretaris Manajemen Informatika (ASMI) sampai tahun 1997.

Namun, bukan hal mudah baginya untuk sampai ke titik ini. Sebab, kedua orang tuanya tidak setuju jika ia harus melanjutkan pendidikan, sehingga untuk membiayai pendidikan kursusnya di Handayani ia rela menjadi seorang buru kasar bangunan, serta untuk biaya selama di Makassar ia bekerja sebagai cleaning service di tempat kursusnya.

Pada tahun 1998 ASMI menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan yang menangani tenaga kerja di Ambon. Ia pun ditugaskaan  ke Ambon untuk mengajar ekstra komputer di SMA Negeri 1 Ambon serta di Sawerigading, Sulsel.

Setelah mengaplikasikan ilmu dan keahliannya di bidang komputer, ia memutuskan untuk lanjut kuliah pada tahun 2000 di Universitas Cokrominoto Yogyakarta dengan mengambil jurusan S1 Ekonomi Manajemen. Meski ilmu itu tidak sepaham dengan keahliannya, ia berharap dengan belejar ekonomi akan memperkaya pengetahuan serta mampu menata perekonomian kedepan.

Kuliah di daerah yang dijuluki sebagai kota pendidikan menjadi awal pengembangan karir Sahidin di bidang organisasi. Tahun 2001 ia merupakan salah satu anggota dan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Yogyakarta. Dengan beroganisasi ia berharap dapat menjadi pribadi yang tidak hanya menonton permasalahan negeri tapi menjadi pelaku menuju perubahan.

Berangkat dari pemikiran itulah, ia terus melakukan kegiatan organisasi HMI dan menguatkan pondasi agar dapat berkomunikasi kepada khayalak serta memperluas jaringan pertemenan. Kendati demikian, ia tetap mengikuti perkuliahan dengan baik yang pada akhirnya lulus tahun 2004 dengan IPK memuaskan 3,4 dan resmi mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi. Hal inilah yang membuat kedua orang tuanya percaya bahwa keinginan Sahidin untuk sekolah begitu kuat.

Selepas kuliah, ia pun mengadu nasib di Jakarta dengan menjadi seorang wartawan harian ibu kota tahun 2005 hingga 2006. Kemudian menjadi karyawan PT. Global Jakarta tahun 2006 hingga 2007.

Ia kembali masuk dalam sebuah organisasi pada tahun 2007 yakni KNPI Sultra. Di organisasi ini dirinya mulai mengenal politik dan terus mempelajari permasalahan yang terjadi di pemerintahan dan masyarakat. Tak mau tinggal diam, ia pun memberanikan diri maju pada Pilcaleg 2009 melalui Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) sebagai calon DPRD Kabupaten Konawe dapil II Wawaonii Tenggara-Wawonii Selatan.

Namun, keinginannya bertentangan dengan takdir Tuhan. Ia gagal menjadi salah satu peraih 4 kursi yang tersedia. Ia berada di posisi kelima dari 80 calon lain dengan peraihan suara 800. Gagal karir politik ia pun tak mau menjadikan itu sebagai halangan uintuk terus mengasah kemampuannya dan terus berjuang.

Lepas dari Pilcaleg ia kembali turun ke masyarakat melakukan pendampingan di tanah kelahirannya. Sahidin membantu masyarakat Wawonii Tenggara membentuk kelompok tani dan nelayan untuk memasukkan proposal program ke instansi pemerintah dan swasta, kemudian menjembatani masyarakat untuk mendapatkan bantuan hukum ketika menyelesaikan sebuah permasalahan.

Hal itu dilakukannya hingga menjelang pesta demokrasi Pilcaleg tahun 2014, sehingga ia pun kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Konawe melalui partai yang berbeda yakni Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dapil yang sama.

Sebelum bertarung di Pilcaleg 2014, ia pun telah mempersiapkan segala macam kebutuhan yang akan digunakan dengan membentuk tim pemenangan, tim pencitraan, tim admnistrasi dan sejumlah tim pendukung lainnya.

Usaha keras dan doanya pun terkabul. Sahidin resmi menjadi anggota DPRD Kabupaten Konawe periode 2014-2019 dengan menempati salah satu kursi dari empat kuota yang tersedia. Ia berhasil meraih urutan suara keempat terbanyak dari 52 calon lain yakni sebesar 902 suara.

Empat bulan duduk sebagai anggota dewan Kabupaten Konawe ia pun mulai menyusun program dengan melakukan pendataan sejumlah permasalahan di tanah kelahirannya, terutama persoalan infrastruktur. Sebab, wilayah Wawonii Tenggara merupakan kecamatan yang terisolir. Akses jalan menuju ke lokasi tersebut tidak dapat dilalui darat kecuali laut dengan ancaman hemapasan ombak laut Banda.

Seiring pemekaran wilayah Kabupaten Konawe Kepulauan tahun 2014, Sahidin pun pindah menjadi anggota DPRD Konawe Kepulauan, dan menjadi anggota Komisi II yang menangani masalah pembangunan. Semangatnya untuk terus memperjuangkan dapilnya agar proyek jalan dapat dilakukan oleh pemerintah, terus ia suarakan ketika sedang mengikuti rapat pembahasan anggaran dengan pihak ekesekutif.

“Bagi saya menjadi seorang anggota dewan adalah bukan hal yang spesial melainkan ini adalah amanah untuk menjalankan tugas sebagai fasilitator rakyat kepada pemerintah, agar anggaran dapat tepat sasaran,” ungkap Sahidin.

Bagi Sahidin, menjalankan tugas sesuai dengan fungsi DPRD yakni sebagai pengawas pemerintah daerah, semua itu dilakukan berlandaskan aturan atau regulasi yang berlaku. Dalam diri pribadi Sahidin selalu ia tananmkan agar bekerja sesuai dengan tupoksi berprinsip kehati-hatian guna menghindari hal-hal yang dapat menjerumuskan dirinya dalam praktik korupsi.

Suami dari Waode Dayani ini, belum berpikir untuk maju kembali pada pemilihan calon legislatif tahun 2019 mendatang, sebab ia masih fokus menjalankan tugasnya yang sekitar dua tahun lagi akan berakhir. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan berangkat dari cita-cita ingin menjadi bagian dalam sistem pemerintahan akan membuatnya yakin menjadi lebih baik lagi dari saat ini. ***