M. Yacub Rahman, SP

M Yacub Rahman, SP ( Anggota )

Mundur dari PNS, Bersinar di Panggung Politik

M.Yacub Rahman, SP

Jangan merasa pintar, tapi pintar merasa. Itulah filsafat hidup M. Yacub Rahman dalam menjalani kehidupan, hingga ia sukses meraih posisi penting sebagai anggota DPRD Konawe Kepulauan periode 2014-2019. Yacub Rahman yang lahir di Kendari 3 Mei 1996 silam, duduk di parlemen melalui partai PKPI setelah mendapat dukungan 589 suara pemilih.

Jenjang pendidikan Yacub Rahman dimulai dari SD Negeri 5 Kolaka lulus tahun 1981, kemudian lanjut ke SMP Negeri 1 Kolaka namun karena alasan jauh dari tempat tinggal ia kemudian pindah ke SMP Negeri 2 Kolaka saat menginjak kelas III. Satu prestasi yang berhasil ia raih adalah menjadi perwakilan Kabupaten Kolaka untuk mengikuti jambore nasional se-Asia Pasifik di Cibubur, Jakarta Timur ketika kelas 1 SMP Negeri 1 Kolaka.

Setelah tamat SMP tahun 1983 ia melanjutkan pendidikan di di SPP-SPMA Wawotobi yang waktu itu masih terintegrasi dengan Kabupaten Gowa. Lulus dari SPMA Wawotobi ia kemudian berfikir untuk langsung bekerja. Alhasil, ia bersama kawannya ke Jakarta untuk mengadu nasib, namun ketika sampai di Jakarta mereka berpisah.

Melalui beberapa proses yang cukup rumit, akhirnya ia memutuskan melanjutkan studi S1 di Universitas Islam Batik (Uniba) Surakarta, Jawa Tengah, mengambil jurusan pertanian. Saat kuliah ia pun tergolong mahasiswa yang aktif berorganisasi baik internal maupun eskternal.

Di internal kampus ia pernah menjadi ketua Senat Mahasiswa Pertanian dan sempat mengadakan kegiatan seminar forum komuniksi mahasiswa di Bogor dan Jogjakarta dengan menghadirkan tokoh nasional Ir. Akbar Tandjung dan H. Munawir Sjadzali, MA.

Terlibat dalam organisasi merupakan langkah awal untuk melantih mental dan cara berkomunikasi dengan orang banyak, serta melatih dasar-dasar kepemimpinan. Baginya organisasi sangat penting dalam perjalanan karirnya.

Apalagi ketika sudah mendapat gelar sarjana, yang dibutuhkan adalah bagaimana seorang dapat berguna dengan menyumbangkan pemikiran dalam mengatasi persoalan di tengah masyarakat.

“Menurut saya, belum tentu yang wisuda tepat waktu akan lebih baik ketimbang isitlahnya ‘mapala’, karena yang dilihat sepak terjangnya setelah meraih gelar dan saya suka berorganisasi,” ungkap Yacub.

Selepas pendidikan S1 tahun 1993 dirinya langsung kembali ke Kokala. Tahun 1995 ia mencoba keberuntungan dengan mengiktui tes konsultan tenaga koperasi. Dari sekian banyak yang medaftar waktu itu ia menjadi salah satu dari dua orang yang lulus di Sultra. Se-Indonesia timur tecatat ada 132 orang yang lulus dan Yacub Rahman berhasil menduduki rangking dua sekaligus diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Ia memulai karir sebagai PNS dengan menjadi konsultan koperasi di Kecamatan Mowewe, Tirawuta, dan Ladongi Kabupaten Kolaka (sekarang Kabupaten Kolaka Timur) tahun 1996 sampai 1997. Selain itu, ia juga pernah menjabat Kasubsi Koperasi PPK Dep Koperasi Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah selama satu periode 1998-1999.

Kendati demikian, menginjak 4 tahun sebagai PNS golongan III B ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai PNS pada tahun 2002 dengan berbagai alasan dan benturan kehidupan saat itu. Tak ada maksud untuk tidak mensyukuri nikmat dari Tuhan, tapi ia melakukan ini dengan maksud untuk menjadi lebih baik lagi kedepan.

Tak lagi bekerja sebagai pegawai, ia terbang ke Malaysia dan Singapura untuk melihat bagaiaman negara tersebut berkembang dalam pembangunan infrastruktur. Pulang dari kedua negara tetangga itu, ia menjadi agen penyalur TKW dan TKI untuk bekerja ke luar negeri. Ia pun termasuk tokoh yang membangkitkan kaum perempuan di Wawonii.

Namun, jalan ini rupanya belum juga menjadi alternatif baginya untuk meraih cita-cita. Sebab, dalam menjalankan aktivitas tersebut ia dituduh melakukan perdagangan manusia oleh masyarakat yang masih berfikir awam. Padahal, kenyataanya ia menyalurkan tenaga tersebut secara resmi melalui PJTKI. Tak lama setelah itu, ia mencoba keberuntungan lain di bidang konstruksi dan menjadi pengawas pembangunan sekolah dasar di Engku Purti, Pangkal Pinang.

Jauh setelah menjalankan aktivitasnya, muncul pemikiran sudah saatnya ia turun ke kampug halaman yang bersamaan dengan semangat masyarakat Wawonii untuk memekarkan diri menjadi beberapa kecamatan yang waktu itu masih dalam jazirah Kabupaten Konawe.

Alhasil, Wawonii Tengah, Wawonii Barat,  Selatan mekar atas perjuangan masyarakat termasuk ia menjadi salah satu tokoh pemekaran. Setelah itu, semangat pemekaran tak berhenti disitu saja dirinya bersama tokoh masyarakat mencoba membentuk forum dan terus melakukan komunikasi intens kepada Bupati Konawe Lukman Abunawas, yang akhirnya keinginan besar masyarakat terbentuklah 7 kecamatan. Yacub merupakan panitia pemekaran dan tim mediasi yang ke sembilan.

Tahun politik 2009, ia mencoba maju sebagai bakal calon legislatif di Dapil II Wawonii. Partai PDIP merupakan pintunya karena waktu itu ia merupakan tim pemenangan Lukman Abunawas. Akan tetapi, semangat untuk maju itu terhambat dengan konflik yang terjadi dalam partai dimana banyak juniornya yang mencoba menyalib dirinya untuk maju pula dalam pemilihan. Karena tidak ada titik terang ia pun legowo tidak maju dan melewatkan kesempatan menjadi calon pada tahun tersebut.

Berbekal dari kegagalan tersebut ia mencoba memahami realitas yang ada. Akhirnya melalui partai baru yakni Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) ia maju dalam Pilcaleg tahun 2014 dan berhasil duduk menjadi anggota DPRD Kabupaten Konawe Kepulauan.

Kini setelah menjadi anggota DPRD yang bernaung di Komisi II, ia pun mulai memahami bahwa menjadi seorang anggota dewan tidaklah mudah membalikan telapak tangan. Terbayang ketika sebagai mahasiswa ia sering mengkrtisi tugas anggota dewan yang nampak tidak ada, dan sangat lambat membuat peraturan daerah.

Kiprahnya di dewan yakni pernah menjadi Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda), berhasil melahirkan 16 Perda dan saat ini sementara berjalan pembahasan enam Perda lainnya.

Pelajaran yang ia dapatkan selama menjadi anggota dewan adalah bagiamana ia menghargai kebersamaan dan menjadi lebih sabar menjalani tugas dalam sebuah sistem pemerintahan. Pria berusia 51 tahun ini tahu bagaimana membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak termasuk pemda, masyarakat umum dan mahasiswa.

Bagi pria pemilik hobi bulu tangkis dan tenis meja ini, jabatan adalah amanah yang harus dipikul dan dijaga dengan baik, agar harapan masyarakat dari hasil studi atau reses dapat tersampaikan kepada pemda dan dipenuhi melalui kebijakan pembangunan fisik ataupun non fisik. Ia selalu berhati-hati dalam menjalankan tugas agar tidak tersangkut kasus hukum. “Kalau bukan hak kita, tidak usah kita garu, toh semua rezeki sudah ada yang atur,” ujarnya.

Suami dari Yeni Jamil ini tak lupa membagi waktu untuk keluraga. Terkadang saat bekerja ke luar daerah ia membawa istrinya agar dapat melihat bagaimana kerja sebagai anggota DPRD. Satu pengalaman menarik, saat rapat paripurna penetapan APBD ia pernah pulang larut malam sekitar pukul 01.00 dinihari bersama sang istri.

Yeni Jamil pun merupakan sosok wanita yang selalu memberikan masukan dan dukungan agar ia tetap bekerja amanah sesuai aturan. Kedua pasangan ini hidup bahagia di Desa Batumea, Wawonii Tengah, bersama keenam anak yaitu empat anak perempuan, Sitti Fahria Yacub H, Siti Sadria Yacub H, Andini Yacub H, Ayira Yacub H dan dua anak lak-laki, Irvan Yacub H dan Irgi Yacub H. ***