Ishak, SE

ISHAK, SE (Anggota)
ISHAK, SE (Anggota)

Berjuang untuk Kemajuan Tanah Kelahiran

Ishak, SE

 Menjadi pribadi bermanfaat bagi orang banyak adalah moto hidup yang dipegang teguh Ishak untuk menggapai karirnya, sehingga duduk sebagai salah satu anggota DPRD Kabupaten Konawe Kepualuan (Konkep).

Ishak lahir di Wawouso pada 22 Januari 1972 silam. Mengeyam pendidikan baginya adalah suatu kewajiban yang harus ia lakukan. Sebab menurutnya pendidikan adalah salah satu kunci untuk mencapai impian seseorang.

Pria berusia 45 tahun ini memulai karir pendidikan dengan menjadi siswa Sekolah Dasar di SDN Wawouso tahun 1984. Kemudian tahun 1987 ia kembali menamatkan pendidikan menengah pertamanya di SMPN Langara. Menjalani masa-masa pendidikan dengan baik, ia menamatkan diri di SMAN Mandonga atau yang saat ini dikenal SMA Negeri 4 Kendari pada 1990.

Masa pendidikan di SMA bagi anak pertama dari tujuh bersaudara ini adalah masa pembentukan jati dirinya untuk merencanakan serta menentukkan masa depan. Ketika duduk di bangku SMP, Ishak bercita-cita menjadi seorang aparat hukum melalui Akademi Kepolisian (Akpol). Baginya menjadi seorang polisi atau TNI adalah tugas kenegaraan yang rela mengobarkan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan masyarakat.

Setelah itu Ishak kemudian melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Halu Oleo dan menamatkan diri sebagai Sarjana Ekonomi pada 1996. Mengambil jurusan ekonomi bukan tanpa alasan, sebab ia melihat jurusan ini adalah jurusan yang sangat dibutuhkan di masyarakat.

Meskipun begitu, pada saat bersekolah ia bukanlah sosok siswa yang berptertasi melainkan biasa-biasa saja. Kemudian semasa menjalani masa kuliah, ia pun sempat aktif mengikuti organisasi HMI, tepatnya di tahun 1992.

Ikut dalam sebuah organisasi baginya sesuatu yang berharga karena melalui HMI ia belajar dasar-dasar kepemimpinan, kemudian belajar berkomunikasi dengan orang banyak dan tentunya membentuk mental rasa percaya diri. Sehingga tak heran ilmu organisasi inilah yang menjadi salah satu faktor dirinya bisa menduduki kursi legislatif.

Setelah jeda setahun menyelesaikan kuliah, dengan semangat ingin mengaplikasikan ilmu yang didapatkan selama menempuh pendidikan mendorong suami dari Yunika Suliawandari bekerja sebagai karyawan di PT. PSPF Cabang Kendari tahun 1997-1998. Namun, pekerjaan itu hanya ia tekuni selama dua tahun.

Setelah keluar dari perusahaan tersebut, tahun 1998 ia kembali bekerja menjadi karyawan PT. BII Cabang Kendari. Kembali, hengkang dari pekerjaannya, ia mencoba peruntungan menjadi karyawan di PT SGP Cabang Kendari setahun kemudian dari tahun 1999 sampai 2014.

Alasan utama memutuskan bekerja wiraswasta ketimbang memilih menjadi PNS adalah mengaplikasikan ilmu yang ia dapatkan selama di bangku kuliah. Sebab tak ada gunanya mencari teori jika tidak diaplikasikan di lapangan.

Selain itu ia menilai perusahaan akan memberikan penilaian objektif sesuai dengan kinerja, sehingga hal tersebut membuatnya tertantang untuk melakukan hal terbaik dalam pekerjaannya. “Ilmu itu lebih penting dibanding harta,” ungkap Ishak.

Setelah menghabiskan waktu bekerja di sebuah perusahaan, muncul dalam benak Ishak untuk ikut membangun daerah atau tanah kelahirannya, Wawonii. Salah satunya melalui jalur politik.

Tahun 2009 ia pun memutuskan maju sebagai anggota DPRD Konkep menggunakan Partai Patriot. Namun sayangnya Tuhan berkehendak lain, sebab ia belum diberikan kesempatan untuk duduk di kursi legislatif. Kalah pada pemilu 2009 tak membuatnya kendor untuk terus berjuang menjadi bagian dari pembangunan Konkep.

Banyak pengalaman yang ia dapatkan saat kalah pada Pilcaleg tersebut. Ishak mulai melakukan pemetaan konstituen di lapangan hingga menuju Pilcaleg 2014. Alhasil, perjuangan belajar dari kekalahan membuahkan hasil bagi Ishak.

Ia sukses meraih 856 suara saat Pilcaleg 2014 silam dan menduduki posisi ke-5 di dapil II. Salah satu semangat untuk maju kembali adalah karena Wawonii mekar menjadi kabupaten Konkep. Saat itu Ishak menggunakan Partai Demokrat.

Sebelum memutuskan ikut Pilcaleg, ia meminta restu kepada istri, anak dan kedua orangtuanya Abdul Azis dan Sitti Hadra. Bagi Ishak keluarga adalah penopang dan motivasi baginya untuk selalu melakukan yang terbaik dalam menjalani kehidupan.

Karir di DPRD ia awali sebagai anggota Komisi II membidangi pembangunan dan setelah ada perolingan ia pindah di Komisi I membidangi pemerintahan. Jabatan menurut pria yang hobi bermain bola volly ketika SMA dan kuliah ini dalah sebuah amanah dan tanggung jawab yang harus ia jalankan dengan baik.

Menjadi anggota legislatif karena dukungan rakyat atau konstituen, sehingga ia menjalankan tugas bagaimana dapat bernilai dengan bermanfaat serta berkontribusi untuk daerah.

Ishak pun memahami dua hal penting yang saat ini dibutuhkan oleh Konkep yakni inftrastruktur dan listrik. Dua hal ini selalu ia temukan keluhan dari masyarakat setiap reses. Karena itu, memperjuangkan aspirasi masyarakat adalah kewajiban sampai terealisasi melalui kebijakan pemerintah daerah. “Saya pikir pemda sampai hari ini terus berkomitmen, salah satunya jalan lingkar sudah jadi kenyataan, meski belum teraspal,” tuturnya.

Membagi waktu antara kerja dan keluarga adalah bagian yang tak terpisahkan bagi Ishak. Senin sampai Jumat ia selalu berusaha dapat berkantor jika tidak ada tugas di luar daerah. Pada Sabtu dan Minggu ia masuk ke Kendari untuk menemui kelima orang anak, yaitu Fajar Syadiq yang saat ini masih berstatus sebagai siswa di salah satu sekolah menengah atas. Fahra Putri Shaffanah siswi Sekolah Dasar, Zahra Ramadhani yang juga masih Sekolah Dasar, Farel dan Zalfa Aqila Putri.

Pada Pilcaleg 2019 mendatang jika diberi kesempatan ia tetap maju dan sudah bertekad mengembangkan wilayah Konkep. Sebab dirinya masuk ke legislatif demi berjuang untuk kemajuan tanah kelahirannya. Apalagi partai yang menjadi kendarannya saat ini begitu fokus mendukung dirinya dalam bekerja.

Ishak pun mengharapkan masyarakat Wawonii dapat bersatu dengan Pemda untuk membangun wilayah yang dikenal sebagai pulau dengan 1.000 air terjun itu. Dimana kebersamaan dan persatuan jauh lebih penting daripada hal lain. Karena dengan menjaga persatuan tanpa melupakan kearifan lokal akan membuat Konkep berkembang dan maju.

“Kalau bukan kita yang bangun siapa lagi,” pungkasnya. ***